Penggunaan Kekuatan Aparat terhadap Kebebasan Berkumpul dan Berpendapat di Indonesia dalam Kerangka ICCPR
DOI:
https://doi.org/10.30812/fundamental.v7i1.6219Keywords:
Akuntabilitas , ICCPR, Penggunaan KekuatanAbstract
Fenomena penggunaan kekuatan eksesif oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam menangani unjuk rasa menjadi sorotan seiring dengan penurunan kualitas demokrasi di Indonesia. Sebagai negara pihak dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), Indonesia berkewajiban menghormati, melindungi, dan memenuhi hak atas kebebasan berkumpul serta berpendapat secara damai. Namun, praktik di lapangan menunjukkan adanya represi fisik yang tidak proporsional dan masif sehingga menciptakan hambatan sistemik bagi resiliensi masyarakat sipil dalam menyuarakan aspirasi politik di ruang publik. Penurunan kualitas demokrasi ini juga tercermin dalam laporan indeks demokrasi yang menempatkan Indonesia pada kategori flawed democracy. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesenjangan antara standar internasional penggunaan kekuatan dengan regulasi serta praktik nasional, sekaligus merumuskan langkah transisi bagi reformasi akuntabilitas kepolisian. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 mengandung ambiguitas dalam konsep ancaman yang memberikan diskresi tanpa parameter tegas sehingga berpotensi berbenturan dengan prinsip kepastian hukum (legal certainty). Dalam praktiknya, penanganan demonstrasi kerap mengabaikan prinsip nesesitas dan proporsionalitas, termasuk penggunaan gas air mata dan kendaraan taktis secara tidak pandang bulu. Oleh karena itu, diperlukan revisi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian untuk memberikan kewenangan pro-yustisia kepada lembaga pengawas eksternal guna memutus rantai impunitas dan memastikan diskresi kepolisian tetap berada dalam koridor hak asasi manusia serta supremasi hukum yang demokratis, sehingga pemulihan kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum dapat terwujud demi keberlanjutan demokrasi Indonesia.
References
Abidin, Z. “Inkorporasi Hak-Hak Fair Trial dalam Rancangan Undang-Undang Hukum Acara Pidana”. Jurnal Hak Asasi Manusia 15, no. 1 (Juli 6, 2022): 44–69. https://doi.org/10.58823/jham.v15i1.117.
Alfarizy, A. Z. E., A. A. Sunarya, dan M. V. R. Hiero. “Excessive Police Violence Against Protesters”. PARADE RISET 2, no. 1 (Februari 12, 2024): 375–388. https://ejurnal.ubharajaya.ac.id/index.php/PARS/article/view/ 3563.
Amnesty International. Indonesia: Police must be held accountable for repeated unlawful use of force against peaceful protesters • Amnesty International Indonesia. Amnesty International Indonesia, Desember 9, 2024.https://www.amnesty.id/kabar-terbaru/siaran-pers/indonesia-police-must-be-heldaccountable-forrepeated-unlawful-use-of-force-against-peaceful-protesters/12/2024/.
Azizah, N. N., D. W. B. Hendarti, dan N. F. Wardhani. “Prabowo Approach Raises Concerns about Civil Liberties”. POLTRANS: Journal of Politics and Social Transformation 1, no. 1 (Agustus 9, 2025): 27–40. https: //journal.uny.ac.id/publications/poltrans/article/view/1441.
Azzahro, K., dan P. Setianingsih. “Dinamika Penegakan Hukum di Indonesia: Tantangan dan Solusi”. Journal Central Publisher 1, no. 12 (2023): 1348–1354. https://doi.org/10.60145/jcp.v1i12.308.
BBC News Indonesia. Pengemudi ojol Affan Kurniawan disebut ’martir demokrasi’ – Apakah aksi massa bakal membesar?, Agustus 29, 2025. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c62ny39eelgo.
Civil Society Alternative Report. Still Far from Adequately Protected: The Enjoyment of Civil and Political Rights in Indonesia. pshk.or.id, Maret 19, 2024. https://pshk.or.id/publikasi/still-far-from-adequately protected-theenjoyment-of-civil-and-political-rights-in-indonesia/.
Eck, K. “Police Deployment in Armed Conflict: A Typology and Multi-Case Application”. Policing and Society 35, no. 4 (April 21, 2025): 465–486. https://doi.org/10.1080/10439463.2024.2387702.
Fajrin, F. W., K. K. Larasati, dan F. Jamaluddin. “Inkonsistensi Politik Hukum Dalam Ratifikasi Perjanjian Internasional Di Indonesia”. Risalah Hukum 21, no. 1 (Juni 30, 2025): 62–77. https://doi.org/10.30872/ risalah.V21.i1.1819.
Ilham, A. Indeks Demokrasi Turun, Indonesia Disebut Alami Otoritarianisasi. Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI), 2025. https://wantimpres.go.id/id/newsflows/indeks demokrasi-turunindonesia-disebut-alami-otoritarianisasi/.
Ismail, I., F. L. Hapsoro, dan A. M. Rezaldy. “Akuntabilitas Penegakan Hukum Terhadap Aparat Kepolisian Yang Melakukan Tindak Kekerasan”. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM 30, no. 3 (Oktober 26, 2023): 602 621. https://doi.org/10.20885/iustum.vol30.iss3.art7.
KontraS. Brutalitas Aparat Bentuk Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, 2024. https://kontras.org/media/siaranpers/brutalitas-aparat-bentuk-kejahatan-terhadap-kemanusiaan.
Kurniawan, F., A. M. Ma’mur, dan R. R. Cindrakasih. “Pemolisian Dan Media: Dinamika Representasi Dan Dampaknya Pada Persepsi Publik”. Innovative: Journal Of Social Science Research 5, no. 1 (Januari 20,2025): 2107–2122. https://doi.org/10.31004/innovative.v5i1.17876.
Maharani, N., S. Rachman, dan A. Makkuasa. “Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Aparat Kepolisian Yang Melakukan Kekerasan Terhadap Demonstrasi”. Legal Dialogica 1, no. 1 (September 17, 2025): 11-20. https://jurnal.fh.umi.ac.id/index.php/legal/article/view/1577.
Mietzner, M. “Elite Collusion in Indonesia: How It Has Both Enabled and Limited Executive Aggrandizement”. The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science 712, no. 1 (Maret 2024): 223–234. https://doi.org/10.1177/00027162241309436.
Mudhoffir, A. M. “Shrinking Civic Space Is Inevitable in Indonesia”. Melbourne Asia Review 22 (April 28, 2025). https://doi.org/10.37839/MAR2652-550X22.1.
Nababan, W. M. C. Anggota Brimob Aniaya Siswa di Tual, Polri Minta Maaf dan Janjikan Proses Pidana. Kompas.id, Februari 22, 2026. https://www.kompas.id/artikel/anggota-brimob-aniaya-siswa-di-tual-polriminta-maaf-dan-janjikan-proses-pidana.
Nababan, W. M. C. Brimob Aniaya Siswa di Tual, Yusril: Tak Cukup Dipecat tapi Juga Dihukum Berat. Kompas.id, Februari 22, 2026. https://www.kompas.id/artikel/brimob-aniaya-siswa-di-tual-yusril-tak cukup-dipecattapi-juga-dihukum-berat.
Ningsih, R. K., dan H. Tuasikal. “Critical Review of Police Performance in Upholding Law Enforcement and Human Rights in Indonesia”. Jurnal USM Law Review 8, no. 1 (April 28, 2025): 381–397. https://doi.org/10.26623/julr.v8i1.11757.
Pramestisari, N. A. S., dan N. L. N. Kebayantini. “Eksistensi Organisasi Masyarakat Sipil Dalam Dinamika Sistem Demokrasi Di Indonesia”. Journal of Humanity Studies 1, no. 1 (September 21, 2022): 18–28. https://doi.org/10.22202/jhs.2022.v1i1.6187.
Putra, N. P. Kapolri Minta Maaf Insiden Mobil Rantis Lindas Pengemudi Ojol saat Kericuhan Demo. Liputan6.com, Agustus 28, 2025. https://www.liputan6.com/news/read/6145113/kapolri-minta-maaf-insiden-mobil-rantislindas-pengemudi-ojol-saat-kericuhan-demo.
Putri, F. A., dan I. Halimatusa’diyah. How Police Brutality Fuels Indonesians’ Distrust. Fulcrum: Analysis on Southeast Asia, September 23, 2025. https://fulcrum.sg/how-police-brutality-fuels-indonesians distrust/.
Rauf, D. A., A. Ahamd, dan M. R. Moha. “Ekuivalensi Kebebasan Berekspresi Dan Perlindungan Nama Baik Pasca Perubahan Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik”. Al-Zayn : Jurnal Ilmu Sosial & Hukum 3, no. 2 (Mei 18, 2025): 601–621. https://doi.org/10.61104/alz.v3i2.1104.
Rijaldi, R., I. Isnaini, dan W. Frensh. “Law Enforcement Against Violations of Freedom of Expression in Public (Study at the Labuhan Batu Police)”. Sosioedukasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan dan Sosial 15, no. 1 (Januari 31, 2026): 570–581. https://doi.org/10.36526/sosioedukasi.v15i1.7317.
Robet, R., M. R. Fitri, dan M. C. S. Kabelen. “The State and Human Rights under Joko Widodo’s Indonesia”. Cogent Social Sciences 9, no. 2 (Desember 15, 2023): 2286041. https://doi.org/10.1080/23311886.2023.2286041.
Setiawati, S., dan S. Dewi. “Criminal Liability of Police Officers in Cases of Abuse of Authority Against Protesters”. International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) 7, no. 4 (Oktober 30, 2025): 2001~2007–2001~2007. https://doi.org/10.56338/ijhess.v7i4.9046.
Supporting an Enabling Environment for Civil Society. Indonesia Country Focus Report – Eu SEE, September 22, 2025. https://eusee.hivos.org/assets/2025/09/CFR_Indonesia_Final_edited-2-1.pdf.
United Nations Human Rights Office of the High Commissioner. Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials. OHCHR, 1990. https://www.ohchr.org/en/instruments-mechanisms/instruments/code-conduct-law-enforcement-officials.
United Nations Human Rights Office of the High Commissioner. General Comment No. 37 (2020) on the Right of Peaceful Assembly (Article 21). Refworld, 2020. https://www.refworld.org/legal/general/hrc/2020/en/149609.
Yunazwardi, M. I., dan A. Nabila. “Implementasi Norma Internasional mengenai Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia”. Indonesian Perspective 6, no. 1 (Maret 29, 2021): 1–21. https://doi.org/10.14710/ip.v6i1.37510.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Fera Wulandari Fajrin, Kandi Kirana Larasati, A. Ummu Fauziyyah Syafruddin, Andi Nur Fikriana Aulia Raden

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Fera Wulandari Fajrin










